ini merupakan jurnal matematika dari
Maximus Gorky Sembiring
Jurusan Matematika, FMIPA-UT
E-mail: gorky@ka.ut.ac.id
Jurusan Matematika, FMIPA-UT
E-mail: gorky@ka.ut.ac.id
PENDAHULUAN
Latar belakang
Paling tidak ada dua pendekatan melakukan investigasi kestabilan global model umum Volterra-Lotka interaksi 2-spesies. Cara pertama adalah pendekatan analitis matematis dan cara kedua adalah melalui simulasi numerik berbantuan komputer. Secara umum, cara pertamalah (analitis matematis) yang telah diterima secara saintifik untuk menyelidiki kestabilan global dari suatu model yang didapat dari sistem persamaan diferensial (Murray, 1989). Meski demikian, cara kedua, simulasi numerik berbantuan komputer, walau saat ini belum bisa diterima sebagai cara saintifik menyelidiki kestabilan global dimaksud, namun paling tidak hasilnya dapat digunakan sebagai salah satu cara memvisualisasikan kajian mengenai kestabilan global model ini.
Paling tidak ada dua pendekatan melakukan investigasi kestabilan global model umum Volterra-Lotka interaksi 2-spesies. Cara pertama adalah pendekatan analitis matematis dan cara kedua adalah melalui simulasi numerik berbantuan komputer. Secara umum, cara pertamalah (analitis matematis) yang telah diterima secara saintifik untuk menyelidiki kestabilan global dari suatu model yang didapat dari sistem persamaan diferensial (Murray, 1989). Meski demikian, cara kedua, simulasi numerik berbantuan komputer, walau saat ini belum bisa diterima sebagai cara saintifik menyelidiki kestabilan global dimaksud, namun paling tidak hasilnya dapat digunakan sebagai salah satu cara memvisualisasikan kajian mengenai kestabilan global model ini.
Dari perspektif substansial, awalnya perilaku trayektori pada bidang fasa
saja, yang diperoleh dari suatu sistem persamaan diferensial, sudah dapat digunakan untuk
"menduga" kestabilan dari suatu model (O’Neil, 1983; Boyce & DiPrima,
1986); dalam hal ini tentunya model umum Volterra-Lotka interaksi 2-spesies. Akan tetapi
dalam kenyataannya, secara analitis, kestabilan tersebut ternyata belum tentu menunjukkan
kestabilan yang bersifat global (Hastings, 1978; Kuang, 1990). Dalam terminologi yang
dikenal di bidang ini, kestabilan yang dihasilkan dari analisis bidang fasa (perilaku
trayektori di sekitar ekuilibrium) hanya bersifat lokal, belum relevan jika diaplikasikan
langsung dalam kehidupan ekosistem nyata (Krikorian, 1979). Secara visual, simulasi
komputer bisa memunculkan sifat kestabilan yang dihasilkan dari suatu model dan ternyata
memang hanya bersifat lokal saja. Artinya, dengan bertambahnya waktu t, kestabilan
tersebut semakin menjauhi atau malah semakin masuk ke titik kritis yang dihasilkan dari
suatu sistem persamaan diferensial.
Problem
Dalam beberapa kajian serupa (Sembiring, 1996), ada terjadi beberapa hal yang saling berbeda antara hasil kajian kestabilan global melalui cara analitis (cara pertama) versus pragmatis (cara kedua). Muncul beberapa kemungkinan menyangkut hasil investigasi kestabilan global model umum Voletrra-Lotka interaksi 2-spesies tersebut, apakah melalui cara pertama (yaitu cara analitis di bawah teorema atau Corollary yang dikonstruksi) dan atau cara kedua (yaitu simulasi numerik berbantuan komputer), yakni:
Dalam beberapa kajian serupa (Sembiring, 1996), ada terjadi beberapa hal yang saling berbeda antara hasil kajian kestabilan global melalui cara analitis (cara pertama) versus pragmatis (cara kedua). Muncul beberapa kemungkinan menyangkut hasil investigasi kestabilan global model umum Voletrra-Lotka interaksi 2-spesies tersebut, apakah melalui cara pertama (yaitu cara analitis di bawah teorema atau Corollary yang dikonstruksi) dan atau cara kedua (yaitu simulasi numerik berbantuan komputer), yakni:
- hasil melalui proses analitis matematis saling mendukung dengan hasil yang ditampilkan melalui simulasi komputer; artinya kestabilan global suatu model dapat ditunjukkan melalui proses analitis matematis demikian juga melalui proses simulasi komputer
- hasil melalui proses analitis matematis menunjukkan kestabilan global sedangkan hasil simulasi komputer tidak mendukungnya
- hasil melalui proses simulasi komputer menunjukkan kestabilan global dari suatu model sebaliknya hasil analitis matematis tidak bisa membuktikannya
- hasil melalui proses analitis matematis dan juga hasil simulasi komputer kedua-duanya sama sekali tidak dapat menunjukkan kestabilan global dari suatu model.
Tujuan
Ada beberapa hal menarik yang bisa diungkapkan dari apa yang telah diuraikan sebelumnya. Namun secara umum, makalah ini akan memperlihatkan pada keadaan bagaimana hasil antara cara analitis matematis versus hasil dari simulasi komputer saling mendukung atau malah saling menegasi. Secara lebih khusus, kajian ini bertujuan untuk memperlihatkan:
Ada beberapa hal menarik yang bisa diungkapkan dari apa yang telah diuraikan sebelumnya. Namun secara umum, makalah ini akan memperlihatkan pada keadaan bagaimana hasil antara cara analitis matematis versus hasil dari simulasi komputer saling mendukung atau malah saling menegasi. Secara lebih khusus, kajian ini bertujuan untuk memperlihatkan:
- apa syarat cukup dan syarat perlu yang harus dipenuhi oleh suatu model umum Volterra-Lotka interaksi 2-spesies dikatakan memiliki kestabilan global
- bagaimana teorema kestabilan global model ini diaplikasikan
- apakah ada limitasi teorema kestabilan global yang diintroduksi dalam kajian ini, dan
- bagaimana keempat kemungkinan problem di atas berlaku dan atau tidak berlaku.
Limitasi
Makalah ini memang dengan sengaja membahas masalah kestabilan global model umum Volterra-Lotka interaksi 2-spesies. Alasannya, Persamaan Diferensial yang diaplikasikan di bidang kajian ekosistem, khususnya dalam kajian dinamika populasi, sementara ini hanya efektif untuk mendeskripsikan interaksi kompetisi untuk spesies kurang dari interaksi tiga sistem (Smale, 1976).
Makalah ini memang dengan sengaja membahas masalah kestabilan global model umum Volterra-Lotka interaksi 2-spesies. Alasannya, Persamaan Diferensial yang diaplikasikan di bidang kajian ekosistem, khususnya dalam kajian dinamika populasi, sementara ini hanya efektif untuk mendeskripsikan interaksi kompetisi untuk spesies kurang dari interaksi tiga sistem (Smale, 1976).
Model-model yang akan digunakan dan teorema-teorema yang akan dipakai
dalam kajian ini sebagaimana diuraikan pada bagian berikut.
ANALISIS MODEL DAN TEOREMA
Model
Model umum Volterra-Lotka yang digunakan sebagai bahan kajian dalam makalah ini adalah sebagaimana yang dintroduksi Goh (1977), yaitu:
Model umum Volterra-Lotka yang digunakan sebagai bahan kajian dalam makalah ini adalah sebagaimana yang dintroduksi Goh (1977), yaitu:
dimana i = 1,2, ..., n (1)
Fungsi Lyapunov yang sesuai untuk model ini, masih dari Goh (1977),
adalah:
Teorema
Syarat perlu dan syarat cukup untuk model (1) adalah:
Syarat perlu dan syarat cukup untuk model (1) adalah:
Teorema 1 (Goh, 1977).
Model (1) dikatakan memiliki kestabilan global jika:
Model (1) dikatakan memiliki kestabilan global jika:
- memiliki ekuilibrium positif, yaitu

- terdapat konstanta positif matriks diagonal F sedemikian rupa sehingga
adalah negatif
definit.
| Catatan: | Pembuktian Teorema 1 mengikuti Goh (1977), dimana |
Makalah ini secara khusus akan membahas model umum Volterra-Lotka
interaksi 2-spesies saja. Untuk n=2 (i=1,2), maka model (1) [masih dari Goh, 1976]
menjadi:
(3)
dimana
dan
adalah
konstanta positif;
dan
bisa ma ngsa dan atau pemangsa.
Sistem (3), menurut Goh (1980), memiliki kestabilan lokal jika memenuhi syarat cukup:
dan
(4)
Syarat perlu dan syarat cukup kestabilan global untuk model umum
Volterra-Lotka interaksi 2-spesies diperoleh dari teorema berikut ini.
Teorema 2 (Goh, 1976)
Model (3) dikatakan memiliki kestabilan global jika:
(i) memiliki ekuilibrium positif, yaitu(ii) ekuilibrium tersebut stabil asimtotis lokal, yaitu(iii) kedua spesies mempunyai densitas mortalitas tetap disebabkan oleh interaksi intra-spesifik, yaitu
Catatan: Pembuktian mengikuti Goh (1976); Sembiring (1996)
Fungsi Lyapunov untuk model ini, dari (2), untuk interaksi 2- spesies, adalah:
(5)
Dengan mengintroduksi suatu variabel baru, disebut transformasi Poincare,
spektrum Teorema 2 dapat ditingkatkan. Variabel baru tersebut diintroduksi awalnya oleh
Hsu (1978), yaitu:
,
![]()
atau (6)
,
![]()
dimana
,
untuk j = i . Dengan
dan j = 1,2, …, n.
Setelah melalui sedikit manipulasi secara matematis, maka Teorema 2
bisa dikembangkan lagi spektrumnya. Adapun pengembangan Teorema 2 ini, dengan bantuan
transformasi Poincare (Hsu, 1978), mengkonstruksi Teorema 3 dan dual-nya, yaitu
Teorema 4 (Goh, 1980; Sembiring, 2000), bisa juga disebut sebagai Corollary,
berikut ini.
Teorema 3
Model (3) stabil global jika
- memiliki ekuilibrium positif, yaitu

dan 
Teorema 4
Model (3) stabil global jika
- memiliki ekuilibrium positif, yaitu

dan 
Awalnya hanya Teorema 2 yang tersedia untuk menganalisis kestabilan global
model umum Volterra-Lotka interaksi 2-spesies. Dengan bantuan transformasi Poincare maka
muncul Teorema 3 dan Teorema 4 yang spektrumnya menjadi jauh lebih luas dari Teorema 2
dalam menyelidiki kestabilan global model ini (Sembiring, 1996 & 2000). Dengan kata
lain, kini telah ada tiga Teorema yang "berbeda" untuk menganalisis kestabilan
global dimaksud. Untuk memulai simulasi, akan diberikan beberapa contoh numerik seperti
diuraikan berikut ini.
APLIKASI DAN SIMULASI NUMERIK
aplikasi & simulasi
Ada lima contoh simulasi numerik yang disajikan dalam makalah ini.
Model-model ini disimulasikan dengan bantuan perangkat lunak komputer Matcalc dan Minitab.
Pada saat yang sama, akan diperlihatkan bagaimana Teorema 2, Teorema 3, dan Teorema 4
diaplikasikan terhadap model-model ini. Model-model dimaksud adalah:
Simulasi 1
Perhatikan sistem berikut yang diberikan oleh:
(7)
Ekuilibrium nontrivial model ini (Sembiring, 1992), diberikan oleh:
(8)
dimanaEkuilibriun positif dari (8) didapat jika:
untuk
atau
untuk
Ekuilibrium positif dari model (7), di bawah (8), adalah
. Kestabilan lokal dari
ekuilibrium ini menurut (4), tergantung dari:
= 5,5
Eigenvalue matriks ini diberikan oleh:
maka
Menurut definisi (O’Neil, 1983), ekuilibrium ini berbentuk titik
spiral. Karena eigenvalue-nya negatif, maka bersifat stabil lokal. Ini juga
diperlihatkan oleh
dan
untuk
[lihat syarat pada persamaan (4)]. Potret bidang
fasa model ini, dari keluaran simulasi komputer, menunjukkan bahwa model (7) bersifat
stabil global (Lihat Gambar 1).


Terlebih lagi,
Maka syarat cukup dan syarat perlu dari Teorema 2, Teorema 3, dan Teorema
4 semua dipenuhi. Maka model (7) bersifat stabil global.
Simulasi 2
Mirip dengan Simulasi 1, ambil contoh numerik berikut:
Di bawah (8),
Kestabilan model (9) didapat dari:

Karena bagian real eigenvalue ini negatif,
menyiratkan ekuilibrium stabil lokal. Selain itu,
dan
untuk i = 1, 2. Simulasi komputer dari model (9) ini (Lihat Gambar
2) memperlihatkan bahwa model (9) bersifat stabil global. Di bawah Teorema 2, Teorema 3,
dan Teorema 4 model ini memiliki kestabilan global. Jadi model (9) juga jelas bersifat
stabil global.

Simulasi 3
Perhatikan pula model berikut ini:
Di bawah (8) jelas
Simulasi komputer juga menunjukkan bahwa model (10) ini bersifat stabil
global (Lihat Gambar 3). Dari (10),
; di bawah Teorema 2, model ini kelihatannya tidak stabil global. Namun
kemudian
; maka di bawah
Teorema 4 model (10) ini memiliki kestabilan global.


Simulasi 4
Periksa model berikut ini:
Dari (8),
dan
dan
Maka di bawah Teorema 3 model
(11) bersifat stabil global. Sayangnya (?), simulasi komputer "tidak" bisa
memvisualisasikan potret bidang fasa dan tipe kestabilan ekuilibriumnya.
Simulasi 5
Periksa pula model berikut ini:
Dengan (8),
Di bawah (4) model ini bersifat stabil lokal. Namun simulasi komputer tidak menunjukkan
kestabilan global model (12) ini. Kebetulan (?), secara analitis matematis, model (12) ini
juga ternyata tidak memiliki kestabilan global. Karena dari ketiga teorema yang ada, tidak
bisa menginvestigasi kestabilan globalnya.
PEMBAHASAN DAN ANALISIS
Dari penyajian model-model, teorema-teorema, dan hasil-hasil simulasi
numerik berbantuan komputer seperti terlihat pada potret bidang fasa sebelumnya (lihat
Gambar 1, 2, dan 3), dapat dilihat hasil dari Simulasi 1, Simulasi 2, dan Simulasi 3
menunjukkan bahwa pendekatan melalui cara analitis teoretis demikian juga cara simulasi
pragmatis hasilnya saling mendukung. Artinya, tidak ada kontradiksi dalam melakukan
investigasi kestabilan global yang dihasilkan oleh kedua pendekatan ini. Dengan kata lain,
baik pendekatan cara pertama dan juga cara kedua sama-sama saling mendukung antara satu
dengan yang lainnya.
Tidak demikian halnya dengan Simulasi 4. Dalam kasus ini, simulasi
komputer tidak bisa menunjukkan kestabilan global model tersebut. Namun, di bawah
pendekatan teoretis, model ini ternyata masih mempunyai kestabilan global. Sementara dalam
Simulasi 5, baik simulasi komputer demikian juga pendekatan analitis tidak bisa
mengungkapkan kestabilan global model ini; hanya bisa mengungkapkan kestabilan lokalnya
saja.
Pada Simulasi 1, sebagaimana terlihat pada Gambar 1, model (7)
sesungguhnya menggambarkan interaksi simbiosa mutualisme. Artinya, dengan
bertambahnya waktu, jumlah masing-masing spesies konstan secara simultan. Simulasi 2,
seperti tervisualisasi pada Gambar 2, memperlihatkan interaksi bersifat kompetisi.
Artinya, spesies yang satu menurun secara simultan bersamaan dengan spesies yang lainnya.
Dan pada Simulasi 3, diperlihatkan oleh Gambar 3, mengungkapkan interaksi bersifat predator-prey.
Maksudnya, spesies yang satu melebihi spesies yang lainnya meski pada saat awalnya mereka
sebenarnya berangkat dari jumlah awal yang secara proporsional relatif sama.
Dari perspektif bentuk-bentuk titik kritis, maka model pada Simulasi 1,
Simulasi 2, dan Simulasi 3 semuanya menunjukkan bentuk titik spiral. Ketiga model
ini mempunyai bagian real dari eigenvalue-nya dan itu bernilai negatip. Hal ini
menunjukkan bahwa semua titik kritis itu bersifat stabil lokal; secara analitis mereka
semua asimtotis stabil (O’Neil, 1983).
Pada Simulasi 4, secara analitis (di bawah teorema yang ada) model pada
Simulasi ini jelas bersifat stabil global. Namun, sayangnya, simulasi komputer tidak bisa
menunjukkan visualisasinya sebagaimana yang ditampilkan pada Gambar 1-3. Sementara pada
Simulasi 5, baik secara analitis demikian juga secara simulasi, keduanya tidak bisa
menyatakan kestabilan globalnya demikian juga tidak bisa memastikan jenis interaksinya.
PENUTUP
Dari kenyataan yang terlihat pada Simulasi 5, maka teorema kestabilan
global yang ada hingga saat ini belum bisa menyelidiki semua model umum dari
Volterra-Lotka, interaksi 2-spesies, khususnya seperti diperlihatkan pada model yang
dikaji dalam Simulasi 5. Artinya, teorema yang ada belum bisa menyelidiki kestabilan
global tiap bentuk model umum Volterra-Lotka. Untuk itu, diperlukan penelitian dan
pengembangan lebih intensif lagi dalam bidang kajian ini. Sehingga bisa memunculkan syarat
cukup dan syarat perlu kestabilan global model umum Volterra-Lotka untuk 2-spesies ini,
dengan kemampuan penjelajahan investigasi yang jauh lebih luas dan lebih umum lagi
spektrumnya dibandingkan dengan semua teorema kajian tentang kestabilan global yang telah
ada hingga saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar